Keajaiban…

        Wajah letih itu seolah tiada berhenti berharap…bagaimanakah caranya mengubah nasib dengan segala yang di punyai. Terbayang rumah mewah, mobil berjejer di halaman parkirnya, taman hijau nan luas di penuhi dengan hamparan bunga warna warni, suara kicauan burung, bocah kecil berlarian kesana kemari dengan suara tawanya.

        Sejenak teringat akan kemampuan diri. Terlahir dengan cacat secara fisik bukanlah kemauannya. Tak pernah tahu kedua orang tuanya, juga bukan kehendaknya, dan tingal di kolong jembatan dengan belas kasihan manusia lain juga bukanlah cita – citanya. Semua sudah di atur olehNya. Menjalani kehidupan dunia dengan bertaruh nyawa di jalanan bukan juga menjadi impianya, semua terjadi karena tuntutan dunia. *aku harus makan, aku harus ini, aku butuh itu* bisiknya dalam batin.

        Lalu matanya menelusuri bagian – bagian tubuhnya, satu per satu di lihatnya. Tangan dan kaki tanpa jari jemari, makanpun harus menyodorkan mulut seperti bebek ke piring supaya nasi bisa masuk. Berjalanpun tidak selayaknya manusia, karena harus *ngesot* menyeret kaki yang tak sempurna.

       Lalu dia menertawakan diri sendiri dan bergumam dalam hati *sungguh hal yang sia – sia aku melamunkan semua itu*. Berdiri tegak saja seumur hidup belum pernah dirasakan, apalagi mampu meraih semua lamunan itu. Merasakan memegang suatu benda saja mungkin tidak pernah tahu sampe ajal menjemput, apalagi memegang setir mobil dan berkeliling di jalanan. Huffff sungguh lamunan hampa dan kosong.

        Kalau seandainya dia bisa meminta kepada Tuhan, dia tidak ingin terlahir seperti ini. Kalau waktu bisa di putar kembali, mungkin dia lebih memilih tidak dilahirkan di dunia ini. Dia bahkan lebih tidak memilih rumah mewah dengan segalanya seperti dalam lamunannya. Dalam hatinya hanya ingin hidup normal seperti manusia lainnya. Bisa meraih mimpi dan cita dengan segala kemampuan normalnya, dengan akalnya, dengan tenaganya. Dan satu hal yang selalu di inginkannya hanyalah ingin tahu dan bertemu dengan kedua orang tuanya. Tetapi dia tersadar, semua itu jauh dari harapan, jauh dari keinginan.

     Terpaksa memupus semua itu demi tidak ingin merasakan sakit yang berlebih dan teramat sakit. Membesarkan diri dan hati dengan selalu mengingat bahwa terlahir didunia bukan keinginan diri, sejatinya hidup di dunia hanyalah untuk menentukan diri ini memilih jalan mana…terlebih lagi sesungguhnya mungkin untuk merasakan sorga Ilahi hanyalah dengan bersyukur dan senantiasa ikhtiar disertai tawwakal, yang terakhir adalah IKHLAS. (Menghela nafas panjang)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s