Resiko Kehamilan Terhadap Organ Jantung

Awal keinginan untuk menulis semua ini adalah karena keingintahuan diri terhadap apa yang terjadi dan dialami adekku yang semula sebelum hamil dan saat hamil adalah sehat walafiat tetapi setelah melahirkan malah mengalami penyakit jantung dan edema paru. Tanpa berniat menyalahkan atau menyudutkan beberapa pihak, tulisan ini semata hanya untuk menjawab semua pertanyaan dalam hatiku yang selalu terus menyeruak, selain itu juga mungkin akan menjadikan keuntungan dalam segi ilmu dan pengalaman bagi diriku sendiri dan bagi semua teman-teman yang membaca tulisan ini, dengan harapan menjadikan waspada terhadap hal-hal yang ada di sekitar kita, yang mampu menjadikan kita lebih kritis dalam membaca sesuatu hal dan lebih smart untuk menganalisa dan mengambil tindakan.


Untuk tahap awal aku akan mengulas dari segi keilmuan

By Devy Mey Ranggaahdiat

Derajat kesehatan penduduk secara optimal dapat diukur dengan indikator, antara lain angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), dan tingkat kesuburan penduduk yang sangat erat kaitannya dengan pelayanan KIA-KB. Walaupun program safe motherhood telah dilaksanakan sejak lama, mulai tahun 1988, hasilnya belum seperti yang diharapkan (Kompas Online.)

Tingkat kesehatan ibu dan anak masih rendah dan perlu ditingkatkan secara intensif dan berkelanjutan. Indonesia masih juga belum mampu mengatasi tingginya angka kematian ibu (AKI) yang 307 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 35 per 1.000 kelahiran hidup. Itu berarti setiap tahun ada 13.778 kematian ibu atau setiap dua jam ada dua ibu hamil, bersalin, nifas yang meninggal karena berbagai penyebab ( Kompas online, 2004 ).

Penyebab langsung berkaitan dengan kematian ibu adalah komplikasi pada kehamilan, persalinan, dan nifas yang tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu. Dari hasil survei (SKRT, 2001) diketahui komplikasi penyebab kematian ibu yang terbanyak adalah perdarahan, hipertensi dalam kehamilan infeksi, partus lama dan komplikasi keguguran ( Kompas online, 2004 ).

Kehamilan adalah peristiwa alamiah yang normal, namun proses kehamilan dapat menjadi menyebabkan depresi pada ibu hamil. Depresi pada ibu hamil dapat disebabkan oleh banyak hal, diantara faktor-faktor yang berpengaruh adalah:

  1. Perubahan hormon yang mempengaruhi mood ibu secara keseluruhan sehingga si ibu sering merasa kesal, jenuh dan sedih
  2. Keadaan fisik yang berubah saat hamil, karena seluruh tubuh harus mengadakan adaptasi secara anatomi dan fisiologi yang menimbulkan keluhan-keluhan fisik dengan semakin bertambahnya usia kehamilan; dan
  3. Adanya masalah masalah dalam kandungan misalnya kandungan lemah yang dapat menyebabkan depresi .

Untuk kasus adeku ini mungkin bisa di sebabkan oleh beberapa jenis, maka aku akan mengulas satu per satu kemungkinan penyebabnya. Antara lain :

  1. Hipertensi
  2. Emboli air ketuban
  3. Sectio caesaria sehubungan dengan anaesthesia

Hipertensi Dalam Kehamilan

Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi) pada wanita hamil banyak terjadi. Namun juga banyak kasus dimana wanita hamil dengan hipertensi mampu menjaga kehamilan kelahiran dengan selamat, komplikasi selama kehamilan dapat dicegah.

Resiko hipertensi pada wanita hamil :

  1. Kerusakan ginjal
  2. Kerusakan pembuluh darah
  3. Stroke
  4. Gagal jantung

Komplikasi/kerusakan organ tubuh akibat hipertensi

Suatu peningkatan dari tekanan darah sistolik dan/atau diastolik meningkatkan resiko terjadinya komplikasi lain kepada penderita. Komplikasi hipertensi sering di rujuk sebagai kerusakan akhir organ akibat tekanan darah tinggi kronis. Untuk itu, monitor tekanan darah tinggi sangat penting dilakukan secara rutin dan berkelanjutan sehingga dapat mengupayakan tekanan darah normal dan mencegah komplikasi penyakit ini:

Gangguan Jantung (cardiac)

Peningkatan tekanan darah pada arteri diseluruh jaringan tubuhnya, dimana mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah melalui pembuluh darah ini yang mengakibatkan pembesaran otot jantung.

Dan ini dapat menjadi suatu pertanda dari gagal jantung, penyakit jantung koroner, dan suatu kelainan irama jantung (cardiac arrhythmias).

Mengalami preeclampsia (tekanan darah tinggi dan kandungan protein yang tinggi pada urin) saat hamil berisiko dua kali lebih besar mengalami serangan jantung di kemudian hari, dan juga risiko diabetes kehamilan hingga 70%.

Emboli Air Ketuban

Yaitu masuknya cairan amnion kedalam sirkulasi ibu sehingga menyebabkan kolaps pada ibu pada waktu persalinan. Kejadian ini lebih sering pada kontraksi uterus yang kuat dengan spontan ata induksi dan terjadi pada waktu air ketuban pecah dan ada pembuluh darah yang terbuka pada plasenta atau serviks.

Umumnya EAK terjadi pada tindakan aborsi. Terutama jika di lakukan setelah usia kehamilan 12 minggu. Bisa juga saat amniosentesis (tindakan diagnostic dengan cara mengambil sampel air ketuban melalui dinding perut). Kasus EAK yang paling sering terjadi justru saat persalinan atau beberapa saat setelah melahirkan.

Baik persalinan pervaginam maupun sesar, tak ada yang bisa aman 100 persen dari risiko EAK. “Sebab, sewaktu proses persalinan normal maupun sesar, banyak vena yang terbuka yang memungkinkan air ketuban masuk ke dalam sirkulasi darah sekaligus menyumbat pembuluh darah balik itu.

Secara sederhana, EAK bisa dijelaskan sebagai berikut :

  • Saat persalinan, selaput ketuban pecah dan pembuluh darah ibu (terutama vena) terbuka.
  • Akibat tekanan yang tinggi, antara lain karena rasa mulas yang luar biasa, air ketuban beserta komponennya berkemungkinan masuk ke dalam sirkulasi darah.

Pada giliran berikutnya, air ketuban tadi dapat menyumbat pembuluh darah di paru- paru ibu.

Jika sumbatan di paru-paru meluas, lama kelamaan bisa menyumbat aliran darah ke jantung. Akibatnya, timbul dua gangguan sekaligus, yaitu pada jantung dan paru-paru.

Yang memprihatinkan proses EAK bias berlangsung sedemikian cepat. Tak heran kalau jika dalam waktu sekitar sejam sesudah melahirkan nyawa ibu yang mengalami EAK tak lagi bias tertolong. Apalagi AEK bisa dibilang muncul secara tiba-tiba tanpa bias di duga sebelumnya dan prosesnya pun berlangsung begitu cepat. Dapat di mengerti angka kematian ibu bersalin dengan kasus EAK masih cukup tinggi sekitar 86%.

Terapi yang bias di berikan, antara lain :

Terapi supportive sesuai dengan gejala yang di timbulkan

  1. Jika gejala berupa sesak napas, ibu diberikan oksigen atau respirator. Dengan bantuan ini, andai sumbatan hanya sedikit maka dalam beberapa waktu sesak akan teratasi.
  2. Namun apabila ibu mengalami gangguan pembekuan darah atau perdarahan hebat, tidak hal lain yang dilakukan kecuali transfusi darah.

Kejadian EAK sulit di cegah karena sama sekali tidak bias di prediksi. Diagnosa pasti hanya bias dilakukan dengan otopsi. Artinya, setelah ibu meninggal baru bias di ketahui komponen-komponen air ketuban tersebar di dalam pembuluh darah paru. Bahkan dalam beberapa kasus, ditemukan air ketuban di dahak ibu yang mungkin disebabkan ekstravasasi, yakni keluarnya air ketuban dari pembuluh darah kedalam gelembung paru/alveoli. Biasanya kalau paru-paru sudah tersumbat ibu akan batuk-batuk dan mengeluarkan dahak yang mengandung air ketuban di sertai rambut, lemak atau kulit bayinya.

Dengan demikian, yang bisa dilakukan adalah diagnosis klinis. Karena secara garis besar air ketuban menyerbu pembuluh darah paru-paru, maka amat penting untuk mengamati gejala klinis si ibu. Apakah ia mengalami sesak napas, wajah kebiruan, terjadi gangguan sirkulasi jantung, tensi darah mendadak turun, bahkan berhenti, dan atau adanya gangguan perdarahan.

Resiko EAK tidak bisa diantisipasi jauh-jauh hari karena emboli sering terjadi pada saat persalinan. Dengan kata lain, perjalanan kehamilan dari bulan ke bulan yang lancer-lancar saja bukan jaminan ibu aman dari resiko EAK.

Sementara jika kehamilan sebelumnya ibu mengalami EAK, maka belum tentu di kehamilan selanjutnya ibu akan mengalami hal yang sama, begitupun sebaliknya.

Beberapa factor yang dapat meningkatakan ibu menjadi resiko terjadinya EAK :

  1. His/kontraksi selama persalinan yang berlebihan, hal ini biasanya di sebabkan antara lain pemberian obat perangsang yang tidak terkontrol.
  2. Adanya bakteri dalam ketuban.
  3. Mekonium atau tinja janin yang terdapat dalam air ketuban, yang merupakan tanda gawat janin, dimana janin dalam keadaan kekurangan oksigen. Akibatnya terjadi peningkatan gerakan usus ibu yang menyebabkan terberak-berak. Air ketuban yang penuh dengan mekonium ini yang menimbulkan kefatalan dalam kasus-kasus EAK.

Angka kejadian EAK di Asia Tenggara ini adalah 1 dari 27.000 persalinan

Sectio Caesaria

Sectio caesarea adalah cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina atau Sectio caesarea adalah suatu histerectomia untuk mengeluarkan janin dari dalam rahim. (Rustam mohtar, 1992).

Saat ini pembedahan seksio sesarea jauh lebih aman dibandingkan masa sebelumnya karena tersedianya antibiotika, transfusi darah, teknik operasi yang lebih baik, serta teknik anestesi yang lebih sempurna. Hal inilah yang menyebabkan saat ini timbul kecenderungan untuk melakukan seksio sesarea tanpa adanya indikasi yang cukup kuat.

Proses persalinan dengan menggunakan metode seksio sesarea perlu diperhatikan dengan serius, karena proses persalinan ini memiliki risiko yang dapat membahayakan keadaan ibu dan janin yang sedang dikandungnya. Salah satu risiko yang dapat terjadi adalah terjadinya perubahan hemodinamik dalam tubuh ibu yang mengandung sebagai efek samping penggunaan anestesi dalam operasi seksio sesarea. Hal inilah yang menyebabkan perlunya pemantauan tekanan darah dan nadi selama proses operasi seksio sesarea.

Pada kehamilan normal, organ jantung ibu akan mendapat beban untuk memenuhi kebutuhan selama kehamilan dan juga beban dari berbagai penyakit jantung yang mungkin diderita selama kehamilan. Kehamilan dapat menyebabkan terjadinya kenaikan tekanan darah, volume darah, tekanan pembuluh darah perifer, serta tekanan pada sisi kanan jantung.

Pada kehamilan, darah yang dipompa oleh jantung akan meningkat sekitar 30%, sementara denyut nadi akan meningkat 10 kali / menit. Volume darah meningkat 40% pada kehamilan normal. Kenaikan tekanan pembuluh darah perifer terjadi karena adanya peningkatan volume air total pada tubuh ibu dan hal ini sering menimbulkan edema perifer serta vena verikosa bahkan pada kehamilan normal.

Dalam beberapa penelitian, volume jantung dikatakan bertambah besar secara normal sekitar 75 ml antara awal dan akhir kehamilan. Massa dinding ventrikel kiri dan dimensi akhir diastole, seperti denyut jantung, isi sekuncup yang sudah dihitung dan curah jantung, juga ditemukan meningkat selama kehamilan,. Peningkatan isi sekuncup dapat mencapai 30% dengan frekuensi denyut sampai 15%. Sedangkan peningkatan curah jantung dapat meningkat sampai 40%. Curah jantung sendiri merupakan respon terhadap aktifitas fisik pada wanita yang sedang hamil yang lebih besar dari keadaan tidak hamil. Selama kehamilan beberapa bunyi jantung dapat berubah sampai dianggap abnormal pada keadaan tidak hamil. Uterus yang besar menekan aorta abdominal, sehingga pada posisi terlentang tekanan yang diberikan juga besar. Hal ini dapat menurunkan curah jantung yang mengakibatkan tensi menurun. Selain itu juga terdapat perubahan hematologi yang menyangkut peningkatan volume darah. Pada satu penelitian yang dilakukan pada 50 ibu hamil, terdapat sekitar 45% yang mengalami peningkatan. Ini diperlukan untuk metabolisme khususnya besi yang juga diperlukan oleh janin. Peningkatan volume darah disebabkan oleh meningkatnya plasma dan eritrosit. Jumlah leukosit pun turut meningkat hingga mencapai 25.000 atau bahkan lebih selama proses persalinan yang diikuti oleh peningkatan kadar koagulasi darah. Pada kehamilan normal konsentrasi trombosit meningkat sampai 300.000-600.000/mm³ yang merupakan faktor penting untuk hemostasis pada kehamilan ataupun proses persalinan.

Teknik anestesi secara garis besar dibagi menjadi dua macam, yaitu anestesi umum dan anestesi regional. Anestesi umum bekerja untuk menekan aksis hipotalamus pituitari adrenal, sementara anestesi regional berfungsi untuk menekan transmisi impuls nyeri dan menekan saraf otonom eferen ke adrenal. Teknik anestesia yang lazim digunakan dalam seksio sesarea adalah anestesi regional, tapi tidak selalu dapat dilakukan berhubung dengan sikap mental pasien. Beberapa teknik anestesi regional yang biasa digunakan pada pasien obstetri yaitu blok paraservikal, blok epidural, blok subarakhnoid, dan blok kaudal. Anestesia spinal aman untuk janin, namun selalu ada kemungkinan bahwa tekanan darah pasien menurun dan akan menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi ibu dan janin. Beberapa kemungkinan terjadinya komplikasi pada ibu selama anestesia harus diperhitungkan dengan teliti. Keadaan ini dapat membahayakan keadaan janin, bahkan dapat menimbulkan kematian ibu. Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain aspirasi paru, gangguan respirasi, dan gangguan kardiovaskular. Walaupun banyak faktor yang dapat mempengaruhi ibu dan janin yang dikandung serta banyaknya sistem tubuh yang dapat dipengaruhi oleh teknik anestesi spinal.

Kontra Indikasi Pada Sectio caesarea

Dalam melakukan operasi sectio caesarea perlu diperhatikan hal-hal yang menyebabkan operasi ini tidak boleh dilakukan antara lain:

  1. Janin mati atau kemungkinan hidup kecil sehingga tidak ada alasan dilakukan operasi.
  2. Janin lahir dari ibu yang mengalami general infeksi dan fasilitas dilakukan sectio Ekstraperitoneal tak tersedia.
  3. Tindakan dilakuklan oleh dokter yang kurang pengalaman dan tenaga medis yang kurang memadai.

Komplikasi :

Komplikasi Ibu

  1. Perdarahan banyak.
  2. Luka operasi baru di perut.
  3. Cedera pada rahim bagian bawah atau cedera pada kandung kemih (robek).
  4. Pada kasus bekas operasi sebelumnya dapat ditemukan perlekatan organ dalam panggul.
  5. Emboli air ketuban yang dapat terjadi selama tindakan operasi.
  6. Infeksi pada rahim/endometritis, alat-alat berkemih, usus, dan luka operasi.
  7. Nyeri bila buang air kecil, luka operasi bernanah, luka operasi terbuka dan sepsis (infeksi yang sangat berat).
  8. Ruptur uteri spontan pada kehamilan mendatang.
  9. Kematian.

Komplikasi Janin

  1. Depresi susunan saraf pusat janin akibat penggunaan obat-obatan anestesia (fetal narcosis).
  2. Anak yang dilahirkan tidak spontan menangis mealinkan harus dirangsang sesaat untuk bisa menangis, yang mengakibatkan kelainan hemodinamika dan mengurangi agar score terhadap anak.
  3. Pengeluaran lender atau sisa air ketuban di saluran napas tidak sempurna.
  4. Penyakit hyalin membrane disease.
  5. Trauma persalinan.
  6. Sistem kekebalan janin tidak segera didapat karena bayi berhadapan langsung dengan lingkungan steril, berbeda pada bayi yang lahir melewati vagina.

Untuk kasus adekku ini kemungkinan penyebab dari ketiganya bisa terjadi, mengingat karena dia sebelumnya memang dalam kondisi yang sehat, untuk sekedar info aja:

Waktu adekku akan melahirkan dia pergi ke tempat bidan praktek di desanya, lalu bayinya tidak juga lahir setelah 2 hari di tempat bidan itu sehingga di rujuk di rumah sakit dengan keadaan sudah hipertensi *sblmnya adekku tidak ada riwayat hipertensi. Jadi kemungkinan hipertensinya di karenakan stress krn bayinya tidak kunjung lahir sedangkan bidan kurang memberikan terapie verbal dan hanya memberikan penjelasan singkat yang notabene tidak di mengerti oleh adekku. Nah untuk emboli air ketuban bisa terjadi saat itu atau saat dilakukan operasi seksionya., karena memang untuk kasus EAK tidak bisa di prediksi kapan akan terjadi. Resiko EAK ini juga bias di pacu dengan adanya anaesthesi spinal pada seksio caesaria.

Mengingat hal ini sudah terjadi kepada adekku jadi tidak ada niatan untuk menyalahkan pihak manapun, namun satu hal mungkin bias di jadikan patokan untuk kasus ini adalah belajarlah professional dalam bidangnya, terutama untuk medis dan paramedic, supaya bisa mengantisipasi dan mengambil tindakan dengan cermat dalam menangani pasien. Karena dengan kejadian ini adekku mengalami gangguin fungsi jantung dan edema paru sehingga harus menjalani perawatan selama 2-3 tahun tanpa berhenti minum obat seharipun. Juga tidak bisa beraktifitas seperti semula, menyusui bayinya pun tidak bisa apalagi menggendongnya.