ALL ABOUT NGIDAM….Nyata atau hanya Sugesti atau hanya bentuk manja seorang ibu hamil…????

NGIDAMMMMM….
*tear_rex said “menurut saya itu hanyalah sugesti yang sudah tertanam berdasarkan budaya yang turun temurun dari nenek moyang…”

Lalu bagaimana menanggapi sikap bumil yang mengalami ngidam?…
Karena tidak ada teori khusus dan penelitian pasti dari penyebab NGIDAM, maka saya akan mencoba mengulas “all about ngidam” ini dengan mengacu kepada teori dan rasionalisasi hal-hal yang di alami seorang wanita yang sedang hamil.

NGIDAM adalah pertanda di dalam badan ibu hamil terjadi perubahan besar yang menyangkut susunan enzim dan hormon. Dengan demikian tubuh ibu menjadi lebih efisien menyerap zat gizi dan makanan sehari-hari.

Tanda-tanda ngidam nafsu makan menurun, merasa mual, dan muntah, namun hanya beberapa bulan yang disudahi dengan naiknya nafsu makan.

Menurut dr. Judi Januadi Endjun, Sp.OG, Sonologist, ngidam diartikan sebagai keinginan akan sesuatu, yang timbul secara tak terduga dan memiliki dorongan kuat untuk segera dipenuhi.

dr. Kartiwa Hadi Nuryanto, Sp.OG
Rasa ingin makan ini atau itu selama hamil atau biasa disebut Ngidam itu wajar. Hal ini bisa disebabkan karena saat hamil tubuh membutuhkan tambahan energi, jadi muncul keinginan untuk makan makanan tertentu.
Ngidam itu Normal

Hormon kehamilan, bisa jadi ‘biang keladi’ munculnya ngidam. Seringkali, makanan yang tidak kita suka, justru menggiurkan saat sedang hamil.

Buah yang asam, makanan pedas, manis, atau asin, adalah jenis makanan yang umum diinginkan oleh ibu yang sedang ngidam.

Kadang-kadang ‘ngidam’ ini jadi pertanda bahwa tubuh Ibu butuh makanan dengan zat gizi tertentu. Misalnya Ibu ngidam mangga muda. Mungkin saja tubuh Ibu sedang butuh tambahan vitamin C.

PENYEBAB
Hingga kini belum ada rumusan pasti terkait penyebab timbulnya ngidam pada wanita hamil. Diduga berhubungan dengan perubahan hormon dan masalah psikis.
Seperti halnya “keanehan” apa (makanan) yang diinginkan (diminta), penyebab ngidam masih sebuah misteri. Pernah ada anggapan bahwa ngidam berhubungan dengan reaksi tubuh terhadap kekurangan nutrisi (vitamin, mineral, karbohidrat, dll) saat hamil, namun anggapan ini tidak dapat dibuktikan. Kenyataannya tidak semua wanita hamil yang ngidam kurang nutrisi dan tidak semua wanita hamil yang kurang nutrisi mengalami ngidam.
Kita berharap para ahli dapat menguak misteri di balik ngidam.

“HCG sedang tinggi-tingginya saat kehamilan 60 hari atau 2 bulan dan menurun dengan sendirinya setelah kehamilan 4 bulan ke atas. Makanya, saat itu mual-muntah akan hilang.” Itu sebabnya, ngidam hanya bersifat sementara. Tapi, pada keadaan tertentu, bisa saja berlangsung selama 9 bulan. “Biasanya terjadi karena ada masalah psikologi.”

Penyebab berikutnya, karena kekurangan makanan terutama pada mereka yang melakukan program diet ketat dan tak terkontrol. Rangsang bau pun sering menjadi penyebab. Misal, bau roti bakar, cokelat, atau bensin. “Hal ini dimungkinkan karena perubahan hormon. Akibatnya indra penciuman jadi sensitif.”

Tak hanya itu, perubahan emosi pun bisa menjadi pemicu ngidam. Gangguan emosi sering terjadi pada lingkungan rumah yang tak baik (kumuh), penghasilan rendah (sosial ekonomi rendah), atau emosi yang labil. Bukankah orang hamil butuh ketenangan, suasana yang nyaman, istirahat cukup, dan makan makanan yang dia perlukan? “Nah, suasana kumuh tak membuat ia nyaman, kemudian makanan yang ia perlukan juga bisa jadi kurang, sehingga memicu timbulnya ngidam.”

ANGKA KEJADIAN
Disinyalir, sekitar 55%-80% wanita hamil mengalami ngidam makanan tertentu, dan sekitar 45-65% wanita hamil menolak makanan tertentu. ( MT Indarti )
Kondisi ini (ngidam dan penolakan terhadap makanan tertentu) biasanya terjadi pada 3 bulan (trimester) pertama masa kehamilan, namun dapat terjadi pada bulan berikutnya.

PICA (ngidam bukan makanan)
Beberapa ibu hamil ada yang menginginkan batu bara, makan tanah, atau serpihan dinding saat ngidam. Ini di sebut PICA. Konon, ini juga berhubungan dengan kurangnya zat besi atau kalsium.
Meskipun ngidam seperti ini adalah hal yang normal, tetapi sebaiknya dilawan. Karena tentunya, ia berbahaya bagi kesehatan Ibu dan bayi.

Anggapan dan pendapat masyarakat tentang NGIDAM :
1. Ngidam adalah keinginan dari si bayi
Sebagai mahluk yang bersiap hadir di muka bumi, si bayi sedang iseng ingin mencicipi makanan tertentu di dunia ini. Lalu lewat kontak dengan ibunya, dia menyampaikan makanan apa yang hendak dimakan. Dari makanan yang diinginkan, dapat dijadikan tanda-tanda jenis kelamin/sifat jabang bayi nantinya.
Berangkat dari situ muncul pendapat lanjutan bahwa kalau ngidam tidak dituruti, bakal menyebabkan bayinya nanti ngileran.
Lebih kejam lagi, kalau belum dituruti maka jabang bayi akan ogah untuk keluar saat waktunya lahir nanti. Harah.

2. Ngidam adalah kesempatan bermanja buat si ibu
Membayangkan bakal membawa beban di perutnya selama 9 bulan, lalu melewati proses menyakitkan di penghujung kehamilan, si ibu tidak mau penderitaan itu dialami sendirian olehnya. Untuk itu si ibu ingin mendapatkan ‘service’ berupa ‘mbok yao dituruti keinginanku yang satu ini’. Dan karena kesannya si Ayah tidak ikut merasakan sakit, maka harus rela dibebani tugas mencari apa-apa yang sedang sulit dicari. Atau minimal mencari solusi lain kalau yang diingini ternyata mustahil didapatkan.

3. Ngidam adalah reaksi alami
Karena tubuh ibu hamil banyak menghasilkan zat xxx (silakan googling sendiri), maka ada ketidaknyamanan rasa di mulut si ibu. Oleh karenanya si ibu ingin memakan makanan yang dirasa mampu mengatasi ketidaknyamanan tersebut. Baik itu yang berasa pedas, kecut, atau makanan yang dianggapnya dapat mengatasi suasana itu. (By Mahesa Jenar).

Kalau menurut saya NGIDAM itu hanya sebagai bentuk manja dari seorang wanita yang sedang hamil, jadi dari segi psikologis si bumil minta di perhatikan dan di perlakukan lebih dari biasanya, maka dari dampak tersebutnya akan timbul keinginan-keinginan yang aneh, bukan kebiasaan dan nyeleneh.
Selama NGIDAM masih dalam batas normal masih bisa di tolelir dan tidak menyebabkan dampak negativ bagi kondisi bumil dan janin boleh saja dituruti. Namun apabila sudah menuju ke arah yang abnormal harus di cegah dengan alasan yang mengacu pada kesehatan bumil dan janin.

Bagaimana Cara Mengatasi NGIDAM :
1. Yang terutama adalah mengendalikan emosi psikologis bumil, “Segera cari faktor penyebab dan atasi.” Bila tak dapat diatasi sendiri, lakukan konsultasi untuk konseling atau psikoterapi. Sebab, semakin bermasalah faktor emosinya, biasanya semakin sering ngidam.
2. Menggantikan keinginan ngidam, misalnya bumil hanya ngidam pd salah satu jenis makanan saja sedangkan makanan tersebut tdk memnuhi standart asupan gizi yang cukup, maka harus di alihkan kepada makanan yang mengandung nilai gizi seimbang. Juga mengalihkan dengan kegiatan-kegiatan yang bisa membuat bumil tidak selalu terfokus pada keinginan ngidamnya tersebut secara terus menerus, misalnya dg hal-hal yang disukai ibu (senam hamil, rekreasi, dll)
3. Tetap fokus memberikan asupan gizi seimbang untuk bumil

MITOS
Apabila bumil ngidam dan ngga kesampaian maka bayi yang di lahirkannya akan ileran…???
Mari kita lihat teorinya :
Ngiler atau istilah kedokterannya Shalore merupakan pengeluaran cairan ludah dari rongga mulut yang tidak disengaja, akibat ketidakmampuan untuk menelan. Shalore ini bukan penyakit tapi gejala penyakit. Meski terdengar agak menyeramkan, namun jangan panik dulu. Karena, kata Widodo, sesungguhnya hal ini termasuk normal. Meski, ada beberapa faktor yang tetap harus mendapat perhatian guna menghindari kefatalan.
Ngeces adalah hal normal pada batita. Begitupula jika bayi tidak punya kebiasaan ngeces, itupun hal yang lazim. Sebab, air liur ini tidak berbahaya mengingat sebagian air liur mengandung air yang berguna untuk melindungi permukaan di daerah tenggorokan pada saat menelan makanan. Selain itu, dalam air liur terdapat enzim emilase yang berfungsi membantu pencernaan di lidah, dan membantu mengeleminasi atau mengevakuasi bakteri dan virus dari mulut.
Perbedaan anak yang ngeces dan tidak hanyalah pada proses pematangan syaraf mulut yang berbeda. Pada bayi yang ngeces, seiring bertambahnya usia, proses kematangan di sharaf otot mulut pun bertambah baik, kebiasaan itu akan hilang.

Proses kematangan ini pada batita berkisar pada usia 18-24 bulan. Setelah itu, biasanya kebiasaan ngeces mulai hilang. Meski demikian, tambah Widodo, walau usia anak sudah lebih dari 2 tahun, tapi masih terlihat ngiler saja, tidak perlu menjadi panik. “Pada kebiasaan ngeces yang normal akan hilang dengan sendirinya. Jika sudah di atas 4 tahun bisa dikatakan karena adanya penyakit menetap atau patologis,” tegasnya.

Jadi ibu ngiler secara teori tidak ada hubungannya dengan ngidam yang tidak kesampaian…*buat mas-mas dan bapak-bapak yang istrinya sedang ngidam berikan alasan yang masuk akal apabila menghindari pemenuhan kebutuhan NGIDAM para istri-istri anda*

Bumil silahkan NGIDAM dan bermanja-manja kepada suami ataupun orang-orang terdekat…karena saya mungkin juga akan melakukan hal yang sama saat hamil nanti…^_^…tapi perlu di ingat bu, harus dalam batas wajar, normal dan tidak menyiksa para suami-suami dan orang-orang terdekat kita

Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s